Sabtu, 20 Februari 2010
Bonek Merah Putih Ancam Tuntut Rusdi Taher
Jum'at, 19 Februari 2010 21:46:23 WIB
Reporter : Fakhrurrozi
Surabaya (beritajatim.com) - Putusan Komisi Banding (Komding) PSSI yang menghukum Bonek 2 tahun tanpa atribut disikapi kelompok Bonek. Salah satunya BNP (Bonek Merah Putih).
Putusan Komding PSSI yang selalu menghukum Persebaya dan Bonek membuat BMP kesal. Pasalnya, setiap kali Bonek berulah selalu dihukum. "PSSI telah bersikap tidak adil terhadap Bonek. Setiap Bonek berulah, selalu mendapat hukuman berat. Tapi coba suporter The Jak yang berulah, tidak ada hukuman," kata Reza Panggabean, Ketua BMP, Jumat (19/2/2010).
Bagi BMP, putusan Komding yang melarang Bonek memakai atribut selama 2 tahun merupakan tamparan keras. "Lebih baik kita dihukum 4 tahun dilarang away daripada 2 tahun tapi tak boleh memakai atribut di kandang sendiri," kata pria yang mengaku memiliki 319 anggota ini.
Atas putusan Komding ini, BMP akan menuntut Rusdi Taher, Ketua Komding PSSI. "Kita akan tuntut Rusdi Taher. Ini karena Rusdi Taher telah mengatakan Bonek itu bodoh, miskin dan tak berpendidikan. Ini kan sudah keterlaluan. Ini kan menuding warga Surabaya bodoh dan miskin," tegasnya.
Rencananya, tuntutan akan diajukan Senin (21/2/2010). BMP berharap Komding menganulir putusannya dengan melarang Bonek memakai atribut selama 2 tahun.
Seperti diberitakan sebelumnya, Komisi Banding PSSI menghukum 2 tahun Bonek untuk memakai atribut. Hukuman ini menganulir hukuman Komisi Disiplin yang menghukum Bonek 4 tahun dilarang mendukung laga tandang Persebaya.
Hukuman ini sebagai buntut ulah Bonek yang tetap nekat berangkat ke Bandung saat Persebaya ditantang Persib Bandung lalu. [roz/kun]
sumber : beritajatim.com
kabar-bonek.blogspot.com
Jumat, 19 Februari 2010
Bonek: Putusan Komding Penghinaan!
Dilarang Pakai Atribut 2 Tahun
Kamis, 18 Februari 2010 20:02:24 WIB
Reporter : M. Syafaruddin
Surabaya (beritajatim.com) - Keputusan Komisi Banding (Komdis) PSSI dimana suporter Persebaya, Bonek dilarang mengenakan atribut di seluruh stadion di Indonesia, termasuk ketika mereka mendukung Persebaya di rumah sendiri, Stadion Gelora 10 Nopember mendapat reaksi keras.
Salah satu dedengkot Bonek, Nur Hasim yang dikonfirmasi beritajatim.com, Kamis (18/2/2010) malam ini mengatakan, keputusan Komding sangat melecehkan. Tak saja kepada Bonek, tapi juga Persebaya dan seluruh insan sepakbola di Surabaya.
"Orang dilucuti atributnya itu sama saja penghinaan buat kita dan sepakbola Surabaya. Apalagi statemen Rusdy Taher (Ketua Komding) itu sangat menghina. Seolah-olah warga Surabaya itu miskin dan melarat," kata Hasim kesal.
Sebelumnya, Rusdy mengatakan, masalah Bonek memang bukan berkaitan dengan sepakbola saja, melainkan juga terkait dengan aspek ekonomi dan sosial. "Berapa pun harganya tiket kita beli kok. Saat lawan Persib dan Arema itu harga tiketnya sangat mahal, soalnya sudah dijual calo, tapi kita tetap beli kan," lanjut Hasim.
Satu kata dengan Hasim, pengasuh situs Bonek Cyber, Fendhza mengatakan, kalau hukuman itu diberlakukan untuk tandang mungkin pihaknya bisa menerima. Tapi akan sangat aneh bila hal itu juga dilakukan saat di rumah sendiri.
"Tapi kalau di kandang saya jelas keberatan. Itu alasannya apa dan dari mana dasarnya. Mungkin hukuman ini memang agak menelanjangi. Seharusnya komding juga harus transparan tentang dasar hukum mengapa mereka menjatuhkan hukuman seperti itu," papar Fendhza.
Hasim menambahkan, seharusnya PSSI bisa adil, apalagi ternyata warga Solo tidak hanya melempari kereka yang dinaiki Bonek. "Jangankan Bonek, kereta Viking saja dilempari. Lalu mana tindakan PSSI, jangan diam saja," tutup pria berambut gondrong itu. [sya/kun]
sumber : beritajatim.com
Kamis, 18 Februari 2010 20:02:24 WIB
Reporter : M. Syafaruddin
Surabaya (beritajatim.com) - Keputusan Komisi Banding (Komdis) PSSI dimana suporter Persebaya, Bonek dilarang mengenakan atribut di seluruh stadion di Indonesia, termasuk ketika mereka mendukung Persebaya di rumah sendiri, Stadion Gelora 10 Nopember mendapat reaksi keras.
Salah satu dedengkot Bonek, Nur Hasim yang dikonfirmasi beritajatim.com, Kamis (18/2/2010) malam ini mengatakan, keputusan Komding sangat melecehkan. Tak saja kepada Bonek, tapi juga Persebaya dan seluruh insan sepakbola di Surabaya.
"Orang dilucuti atributnya itu sama saja penghinaan buat kita dan sepakbola Surabaya. Apalagi statemen Rusdy Taher (Ketua Komding) itu sangat menghina. Seolah-olah warga Surabaya itu miskin dan melarat," kata Hasim kesal.
Sebelumnya, Rusdy mengatakan, masalah Bonek memang bukan berkaitan dengan sepakbola saja, melainkan juga terkait dengan aspek ekonomi dan sosial. "Berapa pun harganya tiket kita beli kok. Saat lawan Persib dan Arema itu harga tiketnya sangat mahal, soalnya sudah dijual calo, tapi kita tetap beli kan," lanjut Hasim.
Satu kata dengan Hasim, pengasuh situs Bonek Cyber, Fendhza mengatakan, kalau hukuman itu diberlakukan untuk tandang mungkin pihaknya bisa menerima. Tapi akan sangat aneh bila hal itu juga dilakukan saat di rumah sendiri.
"Tapi kalau di kandang saya jelas keberatan. Itu alasannya apa dan dari mana dasarnya. Mungkin hukuman ini memang agak menelanjangi. Seharusnya komding juga harus transparan tentang dasar hukum mengapa mereka menjatuhkan hukuman seperti itu," papar Fendhza.
Hasim menambahkan, seharusnya PSSI bisa adil, apalagi ternyata warga Solo tidak hanya melempari kereka yang dinaiki Bonek. "Jangankan Bonek, kereta Viking saja dilempari. Lalu mana tindakan PSSI, jangan diam saja," tutup pria berambut gondrong itu. [sya/kun]
sumber : beritajatim.com
Selasa, 16 Februari 2010
Bajul Ijo Tetap Agresif di Gajayana
Selasa, 16 Februari 2010 08:50:43 WIB
Reporter : M. Syafaruddin
Surabaya (beritajatim.com) - Susah payah Persebaya Surabaya harus menjinakkan Persema Malang di stadion Gelora 10 November beberapa waktu lalu. Dibutuhkan penalti dari Anderson untuk memastikan kemenangan Bajul Ijo atas Laskar Ken Arok dengan skor tipis 1-0.
Kedua tim akan kembali bertemu, Rabu (17/2/2010) besok sore. Untuk pertandingan besok Persema akan tanding di rumahnya sendiri, stadion Gajayana, Malang. Musim lalu, ketika bertanding di Malang, Bajul Ijo harus mengakui keperkasaan anak asuh Subangkit ini. Mungkinkah pasukan Danurwindo berhasil mengulang kesuksesan di Surabaya lalu?
Setidaknya kemenangan atas Persib Bandung menjadi modal berharga untuk melawat ke Malang. Apalagi Taufiq cs bermain kesetanan ketika menjamu Maung Bandung. Lini tengah sangat hidup. Trio John Tarkpor, Taufiq dan Mat Halil cukup mengancam gawang Persib. Tak hanya itu, suplai bola dari lini tengah juga banyak.
Pelatih Persebaya, Danurwindo, Selasa (16/2/2010) mengatakan, kunci utama ketika timnya mengalahkan Persib Bandung adalah agresif serta disiplin. Nah, meski besok mereka berstatus tim tamu, tapi Bajul Ijo tidak akan menanggalkan permainan agresif seperti ketika mengalahkan Persib Bandung lalu. Selain itu, Persebaya yang masih terseok-seok di papan tengah membuat Danur tidak punya pilihan lain selain memanfaatkan setiap peluang yang didapat.
''Kemenangan kemarin membuat mental anak-anak bangkit. Mereka adalah tim bagus, tapi kita harus bermain seperti ketika lawan Persib kemarin. Agresif dan disiplin,'' kata Danur.
Sayang pada pertandingan besok Persebaya tidak akan diperkuat dengan Anderson da Silva dan Mat Halil karena akumulasi kartu kuning. Tapi Danur tidak gusar meski harus kehilangan dua pemain itu. Untuk posisi Anderson, akan diisi oleh libero asal Jepang, Taka Uchida. Sedangkan Satrio Syam bakal mengisi pos yang ditinggalkan Halil.
Persema sendiri sedang bagus-bagusnya. Dalam dua laga away terakhir mereka sukses mengumpulkan dua poin. Padahal mereka baru saja memecat pemain asal Sierra Leone, Brima Pepito. Tanpa Brima, Persema toh bermain lebih baik. Apalagi setelah menambah satu amunisi baru, Park Chul Hyung sebagai tambahan stoper.
Sebagai ganti Brima, Subangkit akan memaksimalkan Jainal Ichwan sebagai partner dari Jairon Feliciano di lini depan. ''Kecepatan pemain sayap Persema menjadi perhatian kami. Tinggal bagaimana antisipasi the winning team yang sudah kita praktekkan di latihan terakhir,” tandas Danur.
Pada pertandingan besok posisi penjaga gawang tetap dipercayakan pada Syaifudin. Tiga beknya adalah, Taka Uchida, Nugroho Mardiyanto dan Djayusman Triasdi. Lima pemain tengahnya adalah, Satrio Syam, Supriyono, Taufiq, John Tarkpor dan Lucky Wahyu. Untuk lini depan dipercayakan pada Korinus Fingkreuw dan Andi Oddang.(sya/eda)
sumber : beritajatim.com
Reporter : M. Syafaruddin
Surabaya (beritajatim.com) - Susah payah Persebaya Surabaya harus menjinakkan Persema Malang di stadion Gelora 10 November beberapa waktu lalu. Dibutuhkan penalti dari Anderson untuk memastikan kemenangan Bajul Ijo atas Laskar Ken Arok dengan skor tipis 1-0.
Kedua tim akan kembali bertemu, Rabu (17/2/2010) besok sore. Untuk pertandingan besok Persema akan tanding di rumahnya sendiri, stadion Gajayana, Malang. Musim lalu, ketika bertanding di Malang, Bajul Ijo harus mengakui keperkasaan anak asuh Subangkit ini. Mungkinkah pasukan Danurwindo berhasil mengulang kesuksesan di Surabaya lalu?
Setidaknya kemenangan atas Persib Bandung menjadi modal berharga untuk melawat ke Malang. Apalagi Taufiq cs bermain kesetanan ketika menjamu Maung Bandung. Lini tengah sangat hidup. Trio John Tarkpor, Taufiq dan Mat Halil cukup mengancam gawang Persib. Tak hanya itu, suplai bola dari lini tengah juga banyak.
Pelatih Persebaya, Danurwindo, Selasa (16/2/2010) mengatakan, kunci utama ketika timnya mengalahkan Persib Bandung adalah agresif serta disiplin. Nah, meski besok mereka berstatus tim tamu, tapi Bajul Ijo tidak akan menanggalkan permainan agresif seperti ketika mengalahkan Persib Bandung lalu. Selain itu, Persebaya yang masih terseok-seok di papan tengah membuat Danur tidak punya pilihan lain selain memanfaatkan setiap peluang yang didapat.
''Kemenangan kemarin membuat mental anak-anak bangkit. Mereka adalah tim bagus, tapi kita harus bermain seperti ketika lawan Persib kemarin. Agresif dan disiplin,'' kata Danur.
Sayang pada pertandingan besok Persebaya tidak akan diperkuat dengan Anderson da Silva dan Mat Halil karena akumulasi kartu kuning. Tapi Danur tidak gusar meski harus kehilangan dua pemain itu. Untuk posisi Anderson, akan diisi oleh libero asal Jepang, Taka Uchida. Sedangkan Satrio Syam bakal mengisi pos yang ditinggalkan Halil.
Persema sendiri sedang bagus-bagusnya. Dalam dua laga away terakhir mereka sukses mengumpulkan dua poin. Padahal mereka baru saja memecat pemain asal Sierra Leone, Brima Pepito. Tanpa Brima, Persema toh bermain lebih baik. Apalagi setelah menambah satu amunisi baru, Park Chul Hyung sebagai tambahan stoper.
Sebagai ganti Brima, Subangkit akan memaksimalkan Jainal Ichwan sebagai partner dari Jairon Feliciano di lini depan. ''Kecepatan pemain sayap Persema menjadi perhatian kami. Tinggal bagaimana antisipasi the winning team yang sudah kita praktekkan di latihan terakhir,” tandas Danur.
Pada pertandingan besok posisi penjaga gawang tetap dipercayakan pada Syaifudin. Tiga beknya adalah, Taka Uchida, Nugroho Mardiyanto dan Djayusman Triasdi. Lima pemain tengahnya adalah, Satrio Syam, Supriyono, Taufiq, John Tarkpor dan Lucky Wahyu. Untuk lini depan dipercayakan pada Korinus Fingkreuw dan Andi Oddang.(sya/eda)
sumber : beritajatim.com
Senin, 15 Februari 2010
Tempurung Bonek Jember Remuk, Pelaku Diduga Oknum Polisi KA
Senin, 15 Februari 2010 17:45:51 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Jember (beritajatim.com) - Seorang Bonek pendukung Persebaya asal Kabupaten Jember, Ryan Bachtiar (17), diduga menjadi korban penganiayaan oknum polisi khusus kereta api (polsuska). Gara-gara penganiayaan ini, Ryan mengalami gegar otak berat dan remuk sebagian tulang tempurung, dan belum memperoleh penanganan dengan baik hingga saat ini.
Kisah penganiayaan terhadap Ryan yang tinggal di Jalan Bungur Kelurahan Gebang Kecamatan Patrang ini sebenarnya terjadi sebulan lalu, seusai menyaksikan laga big match Persebaya versus Arema Malang di Surabaya. Penganiayaan terjadi di atas Kereta Api Mutiara Timur Malam jurusan Surabaya-Banyuwangi.
Ryan tak menyangka bakal mengalami nasib buruk Minggu dinihari (17/1/2010) itu. Kendati perjalanan darat dari Jember menuju Surabaya membutuhkan waktu lima jam, Ryan bersama sekitar 80 orang Bonek Jember tetap berangkat untuk menyaksikan Persebaya berlaga. Suporter Persebaya memang tersebar di sejumlah kota di Jawa Timur.
Wiwin Ariyanto, ayah Ryan, mengatakan, anaknya pamit hendak ke Surabaya untuk menonton Persebaya versus Arema, Sabtu (16/2/2010). Ryan pun bukannya tak bermodal. Ia membawa uang Rp 60 ribu, dengan asumsi Rp 20 ribu utuk membeli tiket masuk stadion, dan sisanya untuk biaya transportasi kembali ke Jember.
Sial, ternyata sesampainya di Gelora 10 November, tiket sudah habis. Ryan bersama kawan-kawannya terpaksa membeli tiket masuk stadion kelas ekonomi dengan harga Rp 40 ribu. Alhasil, ia tak punya cukup duit untuk membeli karcis kendaraan umum agar bisa kembali ke Jember.
Tak kekurangan akal, Ryan bersama dua kawannya, Andre dan Hendra, memilih menumpang truk dari Surabaya menuju Bangil, dan dari Bangil menuju Lumajang. Jelang Sabtu tengah malam sesampainya di Kecamatan Tanggul Kabupaten Jember yang berbatasan dengan Kabupaten Lumajang, tiga sahabat ini turun dan memilih naik kereta api Mutiara Timur di stasiun Tanggul.
Jarak Tanggul dengan kota Jember hanya sekitar 30 kilometer. Tak punya duit lagi, tiga sahabat ini naik tanpa membayar tiket kereta api. Mereka duduk berpencar. Andre duduk di kursi gerbong depan, Ryan dan Hendra duduk di bangku gerbong belakang.
Sial, sedang enak-enak istirahat, mereka kepergok kondektur karena tak punya tiket. Tiga Bonek ini meminta maaf. Namun seorang oknum polisi khusus kereta api (polsuska) tak memberi ampun.
Menurut penuturan Ryan kepada orang tuanya, oknum tersebut menyundut bagian sebelah kelopak mata dan punggung Ryan dengan rokok. Andre mengatakan, polsuska itu menginjak-injak dirinya. "Saya lindungi kepala dengan tangan saya," katanya. Saat polsuska mengalihkan perhatian kepada Ryan, Andre memilih melompat keluar gerbong, kendati kereta api masih berjalan. Untunglah dia selamat.
Namun Ryan tidak selamat. Ia diduga dihajar oleh si oknum, sehingga bagian tempurung kepalanya remuk. Wiwin, ayah Ryan, mengatakan, dia harus mencari duit puluhan juta rupiah untuk melakukan operasi pencabutan serpihan tulang tengkorak yang masuk ke otak. Sampai saat ini biaya pengobatan sudah mencapai Rp 47 juta. Penghasilannya sebagai pedagang roti keliling tak cukup, sehingga Wiwin harus meminjam ke sejumlah kerabat.
"Kami sekeluarga sudah minta pertanggungjawaban ke Polwil Besuki dan PT KAI Daops 9," kata Wiwin. Namun, hingga sebulan setelah kejadian, bantuan maupun santunan tak juga datang. Padahal, Ryan butuh biaya agar bisa menjalani operasi tajap kedua, yakni memasang batok tempurung kepala buatan. [wir]
sumber : beritajatim.com
Reporter : Oryza A. Wirawan
Jember (beritajatim.com) - Seorang Bonek pendukung Persebaya asal Kabupaten Jember, Ryan Bachtiar (17), diduga menjadi korban penganiayaan oknum polisi khusus kereta api (polsuska). Gara-gara penganiayaan ini, Ryan mengalami gegar otak berat dan remuk sebagian tulang tempurung, dan belum memperoleh penanganan dengan baik hingga saat ini.
Kisah penganiayaan terhadap Ryan yang tinggal di Jalan Bungur Kelurahan Gebang Kecamatan Patrang ini sebenarnya terjadi sebulan lalu, seusai menyaksikan laga big match Persebaya versus Arema Malang di Surabaya. Penganiayaan terjadi di atas Kereta Api Mutiara Timur Malam jurusan Surabaya-Banyuwangi.
Ryan tak menyangka bakal mengalami nasib buruk Minggu dinihari (17/1/2010) itu. Kendati perjalanan darat dari Jember menuju Surabaya membutuhkan waktu lima jam, Ryan bersama sekitar 80 orang Bonek Jember tetap berangkat untuk menyaksikan Persebaya berlaga. Suporter Persebaya memang tersebar di sejumlah kota di Jawa Timur.
Wiwin Ariyanto, ayah Ryan, mengatakan, anaknya pamit hendak ke Surabaya untuk menonton Persebaya versus Arema, Sabtu (16/2/2010). Ryan pun bukannya tak bermodal. Ia membawa uang Rp 60 ribu, dengan asumsi Rp 20 ribu utuk membeli tiket masuk stadion, dan sisanya untuk biaya transportasi kembali ke Jember.
Sial, ternyata sesampainya di Gelora 10 November, tiket sudah habis. Ryan bersama kawan-kawannya terpaksa membeli tiket masuk stadion kelas ekonomi dengan harga Rp 40 ribu. Alhasil, ia tak punya cukup duit untuk membeli karcis kendaraan umum agar bisa kembali ke Jember.
Tak kekurangan akal, Ryan bersama dua kawannya, Andre dan Hendra, memilih menumpang truk dari Surabaya menuju Bangil, dan dari Bangil menuju Lumajang. Jelang Sabtu tengah malam sesampainya di Kecamatan Tanggul Kabupaten Jember yang berbatasan dengan Kabupaten Lumajang, tiga sahabat ini turun dan memilih naik kereta api Mutiara Timur di stasiun Tanggul.
Jarak Tanggul dengan kota Jember hanya sekitar 30 kilometer. Tak punya duit lagi, tiga sahabat ini naik tanpa membayar tiket kereta api. Mereka duduk berpencar. Andre duduk di kursi gerbong depan, Ryan dan Hendra duduk di bangku gerbong belakang.
Sial, sedang enak-enak istirahat, mereka kepergok kondektur karena tak punya tiket. Tiga Bonek ini meminta maaf. Namun seorang oknum polisi khusus kereta api (polsuska) tak memberi ampun.
Menurut penuturan Ryan kepada orang tuanya, oknum tersebut menyundut bagian sebelah kelopak mata dan punggung Ryan dengan rokok. Andre mengatakan, polsuska itu menginjak-injak dirinya. "Saya lindungi kepala dengan tangan saya," katanya. Saat polsuska mengalihkan perhatian kepada Ryan, Andre memilih melompat keluar gerbong, kendati kereta api masih berjalan. Untunglah dia selamat.
Namun Ryan tidak selamat. Ia diduga dihajar oleh si oknum, sehingga bagian tempurung kepalanya remuk. Wiwin, ayah Ryan, mengatakan, dia harus mencari duit puluhan juta rupiah untuk melakukan operasi pencabutan serpihan tulang tengkorak yang masuk ke otak. Sampai saat ini biaya pengobatan sudah mencapai Rp 47 juta. Penghasilannya sebagai pedagang roti keliling tak cukup, sehingga Wiwin harus meminjam ke sejumlah kerabat.
"Kami sekeluarga sudah minta pertanggungjawaban ke Polwil Besuki dan PT KAI Daops 9," kata Wiwin. Namun, hingga sebulan setelah kejadian, bantuan maupun santunan tak juga datang. Padahal, Ryan butuh biaya agar bisa menjalani operasi tajap kedua, yakni memasang batok tempurung kepala buatan. [wir]
sumber : beritajatim.com
Persebaya Sebut Wasit Brengsek
Merasa dikerjai pengadil lapangan hijau saat mengalahkan tamunya Persib Bandung membuat manajemen Persebaya Surabaya berang dan menyebut wasit brengsek.
Ketua umum yang juga sekaligus manajer tim Persebaya Surabaya Saleh Ismail Mukadar tidak bisa menyembunyikan kekesalannya, atas ulah wasit Armando Pribadi saat memimpin laga Persebaya kontra Persib Bandung .
Tak heran, begitu masuk ke ruang jumpa pers beberapa saat usai pertandingan, dia langsung menggebrakmeja sembari melontarkan makian kepada pengadil lapangan asal Yogyakarta itu, yang dinialinya banyak mengeluarkan keputusan yang merugikan Persebaya.
“Deklarasi wasit itu gombal semua. Di kandang sendiri saja kita dikerjai apalagi kalau main di kandang lawan. Kalau wasit tetap seperti itu sepakbola Indonesia tidak akan pernah maju dan pasti akan terus terpuruk,” sungut Saleh dengan nada tinggi.
Dikatakan Saleh, beberapa keputusan wasit yang merugikan Persebaya salah satunya ketika pemain Persib melakukan handsball di kotak terlarang. Tapi wasit tidak memberikan penalti untuk Persebaya.
“Selain itu kalian bisa lihat sendiri. Tidak salah kalau sepakbola kita tidak bisa berprestasi. Sebab, PSSI sendiri yang tidak menginginkan kita berprestasi. Kita ini seperti berhadapan dengan 14 pemain tiap pertandingan,” kata Saleh.
“Sengaja saya bicara tegas terkait kepemimpinan wasit seperti ini ketika tim meraih kemenangan. Sebab sekiranya hal ini disampaikan saat Persebaya kalah, nanti dikira hanya mencari alasan semata.”
“Secara kebetulan saja kita menang, meski banyak keputusan wasit yang merugikan. Mumpung tim menang, saya omongi kinerja pengadil lapangan dalam menjalankan tugas, karena memang wasitnya brengsek.”
sumber : goal.com
Oleh Yuslan Kisra
14 Feb 2010 22:05:00
Tak heran, begitu masuk ke ruang jumpa pers beberapa saat usai pertandingan, dia langsung menggebrak
“Deklarasi wasit itu gombal semua. Di kandang sendiri saja kita dikerjai apalagi kalau main di kandang lawan. Kalau wasit tetap seperti itu sepakbola Indonesia tidak akan pernah maju dan pasti akan terus terpuruk,” sungut Saleh dengan nada tinggi.
Dikatakan Saleh, beberapa keputusan wasit yang merugikan Persebaya salah satunya ketika pemain Persib melakukan handsball di kotak terlarang. Tapi wasit tidak memberikan penalti untuk Persebaya.
“Selain itu kalian bisa lihat sendiri. Tidak salah kalau sepakbola kita tidak bisa berprestasi. Sebab, PSSI sendiri yang tidak menginginkan kita berprestasi. Kita ini seperti berhadapan dengan 14 pemain tiap pertandingan,” kata Saleh.
“Sengaja saya bicara tegas terkait kepemimpinan wasit seperti ini ketika tim meraih kemenangan. Sebab sekiranya hal ini disampaikan saat Persebaya kalah, nanti dikira hanya mencari alasan semata.”
“Secara kebetulan saja kita menang, meski banyak keputusan wasit yang merugikan. Mumpung tim menang, saya omongi kinerja pengadil lapangan dalam menjalankan tugas, karena memang wasitnya brengsek.”
sumber : goal.com
Langganan:
Postingan (Atom)